Apakah Kita Bisa Mengalahkan AI? Sebuah Experimen 1
Bagian pertama
Handowo Dipo
Dengan makin majunya teknologi Artificial Intelligence, banyak materi ilmu pengetahuan dan cara mengajar menjadi obsolet. Saat ini, praktis mesin AI seperti chatGPT, Gemini, Llama, dan sebagainya sudah mampu menjawab pertanyaan tentang aneka subjek ilmu dengan sangat baik.
Tanyalah mereka soal soal akuntansi keuangan, atau manajemen, atau programming, atau apa saja. Kualitas jawaban mereka sudah sangat baik.
Mereka bahkan sudah bisa menulis esai dengan sangat baik. Memang kadangkala mereka berhalusinasi dengan memberikan jawaban yang tidak akurat-----seperti contoh waktu diminta membuat analisis tentang kebijakan tarif Trump dan efeknya pada Indonesia di Lampiran 1.
Tapi dengan koreksi instruksi dan prompt yang lebih baik, mereka bisa dilatih atau diarahkan untuk memberikan jawaban yang semakin baik.
Mereka bahkan punya beberapa keunggulan dibandingkan dengan pemikir atau dosen atau analis:
1. Mereka bekerja sangat cepat, tidak kenal lelah fisik seperti manusia
2. Pengolahan data dan pemikiran mereka bisa dibatasi per subjek/fungsi tapi bisa juga diperluas menjadi lintas fungsional. Dengan kata lain, mereka bisa bekerja sebagai spesialis maupun generalis
3. Koleksi data dan pengetahuan mereka sangatlah masif dibandingkan dengan pengetahuan yang dimiliki manusia
4. Mereka terus dilatih dan belajar dari kesalahan mereka-----menjadi lebih pintar setiap hari
Perkembangan itu tentu menimbulkan kecemasan dan pertanyaan:
*Apakah mereka (AI) akan mengantikan dan mengambil pekerjaan kita?
*Siswa sudah bisa belajar langsung dari AI, apa lagi yang bisa/harus kita ajarkan di bangku kuliah?
Ini tentu pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab. Adakah cara untuk menjawab kedua pertanyaan itu? Kalau ada, mungkin itu yang masih bisa kita ajarkan ke siswa kita.
Mari kita tanya dua pertanyaan itu kepada Gemini.
Berikut adalah jawaban Gemini atas pertanyaan pertama:

Jawaban yang mengagumkan dan begitu cepat.
Intinya Gemini mengklaim AI tidak akan menggantikan dosen, dan justru akan menjadi alat bantu dosen yang sangat berguna.
Baru saja saya agak lega membaca jawaban Gemini itu, tiba tiba di layar muncul pemberitahuan berikut:

Wah, Gemini bisa membuat aplikasi dan game dari awal—-bahkan multiplayer lagi. Juga bisa menulis draft dari awal hingga selesai. Sungguh mengagumkan, tapi info itu segera menghapus kelegaan saya.
Saya beralih ke pertanyaan kedua. Tadinya saya mau menanyakan ini:
“Siswa sudah bisa belajar langsung dari AI, apa lagi yang bisa/harus kita ajarkan di bangku kuliah?”
Tapi diilhami oleh jawaban Gemini tentang kelemahan AI (antara lain AI cenderung memberikan jawaban berdasarkan data yang ada, dan dosen manusia bisa bereaksi lebih cepat atas situasi yang terduga——saya memandang ini kelemahan AI yang relevan untuk dibahas lebih lanjut, karena kelemahan AI yang lain yang berhubungan dengan keunggulan kita sebagai manusia masih agak jauh diatas AI. Ini relevan karena kelemahan AI yang bersifat kognitif ini bisa lebih mungkin dikejar AI lewat penguatan kemampuan melihat (visual/gambar) dan mendengarnya (audio) yang semakin hebat. Mungkin cuma kemampuan mencium bau, pengecapan rasa, perabaan dan perasaan yang masih sulit dikejar AI), saya teringat akan kutipan dari antropolog terkenal, Margaret Mead, tentang kemampuan penting yang mungkin perlu diajarkan ke manusia sejak kecil:
"We need to teach our students how to think, when you don't know what method to use, about a problem which is not yet formulated."
Atau
”Kita perlu mengajarkan siswa kita bagaimana harus berpikir, ketika kita tidak tahu metode apa yang harus digunakan, menghadapi masalah yang belum jelas”
Kutipan tersebut yang berasal dari ceramah Mead di tahun 1950 di Harvard University ternyata antisipatif untuk era AI, karena kemampuan penting yang digagas Mead tersebut sesuai dengan kelemahan AI. Saya cukup mengerti cara mengajar kemampuan penting ala Mead tersebut, dan itu akan dibahas di post bagian kedua.
Jadi yang saya lakukan sekarang adalah mengecek kemampuan AI Gemini untuk mengajarkan kemampuan itu. Pertama, saya mesti menginput kutipan Mead itu ke Gemini:


Gemini sangat cerdas meringkas kutipan dari Mead itu ke versi “Ilmu yang mempersiapkan siswa untuk menjadi pemikir adaptif dan pemecah masalah yang efektif di dunia yang terus berubah”. Nilai 100 untuk Gemini.
Selanjutnya saya menanyakan saran Gemini tentang cara mengajarkan ilmu seperti itu kepada siswa:



Wow, hebat. Nilai 100 untuk Gemini, walaupun metode saya lebih bagus.
Selanjutnya saya minta saran Gemini untuk contoh pengajaran dengan pendekatannya:




Wow, nilai 100 untuk Gemini.
Tetapi saya punya pendekatan yang sepertinya lebih bagus daripada pendekatan Gemini di bagian kedua post ini.
Sebelumnya diterbitkan di Substack.com, 31 Juli 2025.